Sabtu, 30 Juni 2018

ECON LIDERSIP


Latar Belakang
Pembangunan ekonomi daerah saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah pusat guna meningkatkan akselerasi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional, terlebih lagi ketika saat ini persentase pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mencapai targetnya. Di tahun 2018 ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru mencapai angka 5,07% sedangkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 7%.  Pembangunan ekonomi nasional merupakan suatu fungsi dan agregasi dari pembangunan daerah, bila ekonomi daerah maju dan berkembang, maka pembangunan ekonomi nasional juga akan maju dan berkembang, daa saing nasional merupakan agregasi dari daya saing daerah, total output nasional (PDB nasional) merupakan jumlah total output daerah (PDRB daerah). Dalam perspektif ini, bukan karena kurang maksimalnya pertumbuhan ekonomi nasional menyebabkan melambatnya pertumbuhan perekonomian daerah, namun justru sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia masih berkisar diangka 5-6% dimana DKI Jakarta memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 6,02%, diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 5,82% dan Nusa Tenggara Barat dengan pertumbuhan terendah sebesar 0,11%, pertumbuhan ekonomi daerah ini tentu saja berimbas pada besarnya angka pertumbuhan nasional.  Bagaimana cara untuk memberdayakan daerah agar lebih kompetitif, efisien, dan efektif, ini menjadi tugas bersama. Persoalan-persoalan seperti rendahnya penyerapan anggaran, system birokrasi, kualitas sumber daya manusia (SDM), mekanisme penganggaran dengan DPRD, karakter pemimpin daerah, intervensi politik, dan kriminalisasi merupakan faktor penghambat pertumbuhan ekonomi yang perlu dicarikan solusinya. Disparitas dan kesenjangan kualitas birokrasi pusat dan antar daerah juga perlu diselesaikan.
DPR RI telah mengesahkan bahwa Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 2.260 trilliun, dengan rincian dana transfer ke daerah sebesar 706,1 trilliun dan dana desa sebesar 60 trilliun. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana anggaran ini dapat memberikan efek pengganda (multiplayer effect) yang tinggi bagi pertumbuhn ekonomi daerah. Dengan adanya UU No 32 Tahun 2004 yang disempurnakan menjadi UU NO 12 Tahun 2008 tentang pemerintahan daerah dan UU No 33 Tahun 2004 tentang dana perimbangan pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah menempatkan pembangunan daerah menjadi poin penting dan strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan memberikan perlindungan hukum dari negara kepada pejabat dan pemimpin pemerintah daerah untuk mengembangkan ekonomi daerahnya masing-masing dan perlindungan dari kriminalisasi kebijakan. Selain itu diperlukan juga perlindungan dari intervensi politik yang dapat mengancam effisiensi dari pembangunan daerah tersebut. Salah satu bentuk intervensi politik yang merugikan adalah seringkali terjadi tekanan melalui proyek titipan dengan ancaman pelepasan jabatan. Ancaman ini dikhawatirkan dapat menurunkan manfaat dari pembangunan infrastruktur daerah dikarenakan mismatch antara kebutuhan daerah dan program yang dilaksanakan.
Selain perlindungan dengan landasan hukum, penting juga pemerintah pusat membantu peningkatan kompetensi dan kapabilitas pejabat di daerah. Kemampuan dan kompetensi dari mulai perencanaan, penganggaran, implementasi, sampai pemantauan perlu terus ditingkatkan. Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kementerian Keuangan, serta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dapat ditugaskan untuk membuat program percepatan peningkatan kualitas SDM di daerah. Program pelatihan, workshop , sertifikasi, dan pendidikan perlu segera disusun bagi birokrat di daerah. Hanya melalui hal ini, besaran anggaran dana transfer daerah dan dana desa memiliki dampak sangat besar bagi perekonomian daerah, karena para pimpinan daerah akan mendapatkan wawasan dan ilmu tambahan tentang bagaimana cara mengelola system perekonomian daerahnya sehingga pertumbuhan ekonominya dapat dimaksimalkan. Salah satu program yang sudah mulai dilaksanakan pemerintah dalam upaya mengedukasi dan meningkatkan kualitas para pejabat dan pimpinan daerah adalah melalui program tahunan Bank Indonesia (BI) yaitu Economic Leadership for Regional Government Leader. Program ini diadakan BI dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan melihat peran penting BI yang semakin meningkat terhadap pembangunan daerah semenjak dibentuknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


 Economic Leadership For Regional Government
Bank Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang stabil dan berkelanjutan. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pembekalan terkait ekonomi dan inovasi bagi para pemimpin daerah. Program itu dinamakan Economic Leadership for Regional Government Leader. Program Economic Leadership for Regional Government Leaders Angkatan III pada tanggal 17 s.d. 19 Januari 2018 bertempat di Kampus BINS Jakarta. Kegiatan yang berlangsung selama 3 (tiga) hari tersebut dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo dan diikuti oleh 35 unsur pimpinan daerah yang terdiri dari Bupati, Walikota, Ketua DPRD serta Kapolres. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi dari Bank Indonesia, dan beberapa lembaga yaitu Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS), Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI), Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (ADEKSI), dan POLRI untuk mewujudkan pembangunan SDM Nasional dan kepemimpinan yang berkualitas.
Bank Indonesia memandang penting untuk membantu, mendukung serta mensukseskan Kepala Pemerintahan Kabupaten, Kota, Kepala DPRD Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia dalam melakukan reformasi struktural dan mempercepat pembangunan ekonomi regional. Salah satu strateginya adalah melalui pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dalam kepemimpinan ekonomi daerah dan nasional. Para pemimpin tersebut diharapkan dapat menciptakan terobosan-terobosan dan menjadi Pembaharu Ekonomi Regional Indonesia.
Bank Indonesia bekerjasama dengan APKASI, APEKSI, ADKASI, dan ADEKSI, dalam menentukan para peserta yang akan diundang untuk menghadiri kegiatan ini. Peserta yang hadir biasanya berasal dari petinggi-petinggi di daerahnya masing-masing seperti contohnya para walikota, wakil walikota, ketua DPRD, ketua kantor perwakilan BI, dan POLRI. Pemilihan peserta undangan didasarkan pada fokus tahunan yang sudah diinstruksikan oleh presiden, seperti pada tahun 2017 daerah yang diundang berasal dari daerah yang memiliki potensi dibidang pertanian, dan 2018 berasal dari daerah yang memiliki potensi pariwisata, sesuai dengan fokus dan tujuan pemerintah pusat. Selain itu, salah satu faktor yang menjadi acuan dalam menentukan peserta undangan adalah melihat Indikator Kinerja Utama (IKU) setiap tahunnya yang diserahkan Perwakilan Bank Indonesia  di daerah masing-masing. Jumlah peserta yang diundang tiap angkatannya berkisar diangka 25-30 peserta dari seluruh Indonesia.
Program ini diselenggarakan Bank Indonesia melalui Bank Indonesia Institute yang merupakan program pembekalan dan pengembangan kepemimpinan melalui kurikulum yang inovatif dan bersifat transformative, Platform pembelajaran bagi eksekutif pemerintah dan legislatif daerah ini disusun dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap isu-isu terkini, tantangan nasional dan global, serta saling berbagi pengalaman antar peserta terkait formulasi kebijakan yang telah diimplementasikan. Proses pembelajaran ini akan mendorong pertukaran gagasan dan koordinasi antar peserta. Program ini diharapkan dapat mendukung lahirnya pemimpin yang berkualitas, tidak hanya mahir dalam kompetensinya sebagai pemimpin profesional, namun juga memiliki integritas serta kepemimpinan yang luhur, Peserta diharapkan dapat memahami isu-isu ekonomi terkini dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan bertukar gagasan untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, bangsa Indonesia menghadapi tantangan baru akibat konstelasi ekonomi global dan percepatan perubahan yang pesat, yang dipicu perkembangan eksponensial teknologi. Menurutnya, digitalisasi, mobilitas dan keterhubungan telah menciptakan platform-platform yang tidak melihat wilayah dan batas-batas regional. Untuk menjawab tantangan dan merespon hal tersebut, pengembangan SDM yang berkualitas dalam kepemimpinan ekonomi nasional dan regional menjadi jawaban yang tepat
Lebih rinci, program ini akan memaparkan strategi bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga. Selanjutnya adalah strategi dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru sesuai kondisi masing-masing daerah, program ini juga memaparkan strategi koordinasi dan komunikasi antara pemerintah daerah dengan stakeholder. Program ini juga mengunakan format pembelajaran dalam bentuk studi kasus dan interactive sharing dari para peserta mengenai terobosan strategi yang telah dilakukan di masing-masing daerah. Terakhir, program ini juga ditunjukan untuk mengedukasi pemerintah daerah untuk mendayagunakan APBD dengan baik, terutama dalam peningkatan efisiensi dan ketepatan pemanfaatan dan cara menciptakan iklim investasi terutama dengan membuat regulasi yang ramah terhadap investor. Program ini diharapkan dapat mendukung lahirnya pemimpin yang berkualitas, tidak hanya mahir dalam kompetensinya sebagai pemimpin profesional, namun juga memiliki integritas serta kepemimpinan yang luhur.
Tidak hanya memaparkan teori, program ini juga menggunakan format pembelajaran dalam bentuk studi kasus dan interactive sharing dari para peserta mengenai terobosan strategi yang telah dilakukan di masing-masing daerah.  Ini merupakan sebagai bentuk sinergi antar elemen pemerintah dalam menciptakan continuous learning improvemement. Selain itu, forum sharing dan diskusi ini diharapkan dapat memperluas frameworking antara pemerintah daerah dalam membantu mengembangkan perekonomian daerahnya masing-masing.
Economic Leadership For Regional Government: Gaungan Keberhasilan Dan Program Lanjutan
            Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2016, program ini sudah berjalan sebanyak 4 kali atau 4 angkatan, dimana program ini diadakan 2 kali tiap tahunnya dan angkatan ke-5 yang akan diadakan pada Juli-Agustus 2018. Banyak sekali gaungan keberhasilan yang muncul akibat diadakannya program ini, baik dari testimoni para anggota maupun dari kasus nyata dari program lanjutan yang diadakan BI setelah mengadakan kegiatan ini. Banyak alumni peserta yang merayakan manfaat yang mereka dapatkan dari program ini yang dianggap memperluas pandangan mereka dalam mengelola ekonomi daerah mereka masing-masing. Wawasan tambahan yang didapatkan berasal dari isi atau topik yang dibawakan pembicara dan juga sesi sharing dan diskusi yang diadakan dalam rangka memberi masukan dan saran tentang program terobosan dan inofatif yang telah dilakukan oleh beberapa daerah sehingga dapat memperluas networking antar daerah yang menjadi peserta. 
            Tentu saja pelatihan singkat yang hanya dilaksanakan selama 3 hari ini belum tentu dapat memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan perekonomian daerah pesertanya, tetap dibutuhkannya program-program lanjutan yang harus dilakukan Bank Indonesia dalam memaksimalkan pertumbuhan ekonomi daerah. Masih diperlukannya program lanjutan dari Bank Indonesia dalam memaksimalkan potensi pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut Ibu Sempa Arih  H. Sitempu, Kepala Departemen Surveilans Sistem Keuangan Bank Indonesia, program lanjutan yang diadakan BI adalah menghubungkan daerah-daerah potensial ke divisi cabang dari Bank Indonesia, seperti Divisi  Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk daerah yang fokusnya adalah membangun UMKMnya, Divisi Regional BI, dan Divisi Riset BI yang akan membantu dan membimbing daerah tersebut dalam pembangunan berkelanjutan. Beberapa contoh dari tindak lanjut Bank Indonesia setelah program ini terjadi di Kabupaten Maros dan Kota Solo.
            Setelah mengikuti Economic Leadership For Regional Government Angkatan I pada Juli 2016, Bupati Maros, Bapak Hatta Rahman bersama DPRD Maros dan Perwakilan Bank Indonesia di Sulawesi merumuskan beberapa kebijakan guna  memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maros, rumusan kebijakan itu antara kain terdiri dari kewajiban untuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Maros untuk melakukan ekspose program untuk tahun 2017. Metode yang dipakai Bupati Maros dengan system ekspose ini tidak umum digunakan di Sulawesi Selatan bahkan di Indonesia. Ekspose ini bertujuan untuk mencegah SKPD membuat program copy-paste dan tumpeng tindih sehingga tepat sasaran, terjadi efisiensi penggunaan APBD sehingga penyerapan APBD dapat berada di level yang lebih baik, dan program yang dibuat agar sesuai dengan tujuan awal pemerinta Kabupaten Maros. Dibawah bimbingan BI, Maros terus menggenjot perekonomiannya hingga terlihat hasil yang cukup baik. Terlihat dari data OJK, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maros berdasarkan PDRB harga konstan pada tahun 2014-2015 masih berada pada kisaran 4-5% sedangkan pada tahun 2017 pertumbuhan ekonominya mencapai 8,54%.
            Salah satu bentuk program lanjutan yang dilakukan BI adalah membuat program percontohan melalui riset dan penelitian di daerah-daerah potensial yang belum disadari oleh masyarakat. Untuk melaksanakan program lanjutan ini, BI bekerjasama dengan Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) BI, Divisi  Riset BI, dan Divisi UMKM BI dalam merumuskan dan merencanakan program percontohan yang dimaksud. Salah satu program percontohan yang dimaksudkan adalah program percontohan tanaman bawang di Kota Solo, Jawa Tengah. Selama ini daerah penghasil komditas bawang yang paling dikenal adalah Kota Brebes, padahal masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang dinilai cocok untuk daerah produksi bawang, seperti Kota Solo. Dalam hal ini, BI bekerja sama dengan Divisi Riset dan CSR untuk mengadakan riset dan penelitian lanjutan di solo mengenai jenis tanah dan bibit yang cocok untuk program percontohan ini dan diperoleh hasil yang cukup mengesankan dimana menggunakan cara yang telah dikelola oleh BI ini dapat dihasilkan panen yang berkali-kali lipat.
Bank Indonesia Sebagai Penasihat Pemerintah Dan Tantangan Dalam Pertumbuhan Ekonomi Daerah
            Melalui program lanjutan yang sudah di susun oleh BI, pemerintah daerah diharapkan dapat melanjutkan dan mengembangkan rancangan tersebut agar dapat memiliki efek multiplayer yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerahnya masing-masing. Peran BI disini hanya sebatas advicer atau penasihat bagi pemerintah daerah. Tantang yang muncul dari pembangunan yang berkelanjutan yang dirancang BI ini tentu saja memiliki beberapa tantangan dalam pengembangannya, diantaranya adalah komitmen atau good will yang dimiliki pemerintah daerah. Kurangnya rasa peduli yang dimiliki para petinggi-petinggi daerah yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri ketimbang daerahnya tentu akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan ekonomi daerahnya. Adanya program-program yang tidak sesuai rencana dan melenceng dari rancangan awal yang telah dibuat, semata-mata hanya karena program titipan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain komitmen dari pemerintah daerah, biaya yang relatif tinggi dalam membuat program percontohan seperti dikota solo juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi BI dan PEMDA dalam upaya melancarkan program ini. Biasanya dibutuhkan skala produksi yang tinggi agar dapat melaksanakan program percontohan ini dengan efisien dan juga berada pada area economic of scale. Tantangan lainnya biasanya ada pada sikap masyarakat itu sendiri dalam merespon bantuan dan kebijakan yang sudah dikeluarkan baik oleh PEMDA maupun BI.


Analisa Kurva Aggregate Supply Dan Aggregate Demand

            Jika para peserta program Economic Leadership For Regional Government dapat memanfaatkan dan memaksimalkan ilmu yang didapatkan dari workshop dan program lanjutan yang diadakan BI untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah, bukan tidak mungkin jika di tahun yang akan datang kita dapat memperkirakan terjadinya pertumbuhan ekonomi daerah yang semakin baik dan merata. Dilihat dari keberhasilan Kabupaten Maros dalam memanfaatkan program ini, sangatlah wajar jika mengatakan program ini memiliki dampak yang signifikan dalam upaya dan focus pemerintah saat ini. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan PDRB harga konstan Kabupaten Maros yang meningkat sebesar 3% sejak kebijakan baru yang dikeluarkan Bapak Hatta Rahman dengan bantuan dan dorongan BI  merupakan bukti nyata dari program ini. Selain itu penyerapan APBD yang meningkat dari hanya kisaran 60% di tahun 2015 menjadi 70% di tahun 2017 juga mengakibatkan meningkatnya produktivitas daerah Maros. Jika di asumsikan daerah-daerah peserta program ini memiliki tingkat keberhasilan yang sama dengan kabupaten Maros, maka dapat meningkatkan produktivitas tiap daerah sehingga akan menggeser kurva Aggregate Supply (AS) ke kanan atas. Akibat pergeseran kurva ini terlihat bahwa akan terjadi kenaikan pertumbuhan ekonomi (Y) atau PDRB tiap daerah dan penurunan harga secara umum yang tentu akan berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar