PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT
AKAN PENTINGNYA BERINVESTASI DALAM USAHA PENGENTASAN KEMISKINAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kemiskinan
pada dasarnya merupakan salah satu bentuk masalah yang muncul dalam kehidupan
masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang.
Masalah kemiskinan ini menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah secara
berencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang singkat. Upaya
pemecahan masalah kemiskinan tersebut sebagai upaya untuk mempercepat proses
pembangunan yang selama ini sedang dilaksanakan.
Di
Indonesia sendiri, kemiskinan masih menjadi problematika yang masih menjadi
tugas bagi pemerintah. Data OJK tahun 2018 menunjukan tingkat kemiskinan
Indonesia masih berada di titik yang cukup mengkhawatirkan, hal indi ditunjukan
dengan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia yang mencapai 6,8-7 juta oran, 4,4% dari seluruh penduduk
Indonesia dimana provinsi dengan tingkat
pengangguran tertinggi di Jawa Barat yaitu 8,16% dan terendah ada di Provinsi
Bali yang hanya 0,8%. Tingkat pengangguran di Indonesia masih lebih tinggi dari
Myanmar dan Timor Leste yang berada pada kisaran 4,1%, Malaysia 3,30%,
singapura 2%, dan Thailand di angka 1,2%.
Salah satu
cara untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah dengan cara melakukan
investasi ke daerah – daerah potensial. Ha ini dilakukan karena investasi dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi secara berkelanjutan. Investasi ini juga erat kaitannya dengan penyerapan
tenaga kerja sehingga dapat menurunkan angka pengangguran. Akan tetapi
pentingnya investasi belum didorong oleh kesadaran masyarakat untuk
berinvestasi, di tahun 2018 tercatat bahwa masyarakat yang berinvestasi hanya
0,4% dari seluruh penduduk di Indonesia.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan permasalahan tentang kemiskinan dan rendahnya tingkat
investasi, maka penulis mencoba membahas:
1.
Bagaimanakah keadaan kemiskinan dan tingkat investasi di
Indonesia?
2.
Apa saja hambatan- hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan
investasi di Indonesia?
3.
Bagaiman edukasi dapat mendorong pertumbuhan tingkat
investasi di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.
Mengetahui keadaan
kemiskinan dan tingkat investasi di Indonesia.
2.
Mengetahui Apa saja hambatan- hambatan yang dihadapi dalam
meningkatkan investasi di Indonesia.
3.
Mengetahui Bagaimaa edukasi dapat mendorong pertumbuhan
tingkat investasi di Indonesia.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1.
Sebagai data untuk menunujukan keadaan tingkat kemiskinan dan
investasi di Indonesia.
2.
Sebagai sumber
pengetahuan bagi masyarakat tentang pentingnya investasi.
3.
Untuk menambah kemampuan penulis dalam menulis makalah agar
dapat bermanfaat dimasa mendatang.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Kemiskinan
kemiskinan adalah
sebuah kondisi dimana kemampuan kehidupan seseorang maupun berkelompok
masyarakat yang hidup dibawah garis yang di tetapkan oleh pemerintah dalam hal
ini mengenai ekonomi. Jadi kemiskinan adalah suatu bentuk kegagalan
perkembangan ekonomi oleh pemerintah. Karena tingkat kesejahteraan masyarakat
di tentukan oleh kebijakan ekonomi pemerintah.
Penyebab Kemiskinan
1.
Market Failure
Hal ini dapat terjadi
ketika sebagian kelompok miskin termasuk angkatan kerja memperoleh upah kerja
yang dibawah standar kebutuhan hidup layak (KHL) untuk mencukupi kebutuhan poko
(sandang, pangan, kesehatan, pendidikan).
2.
Political Failure
Kejadian ini bisa saja
akan terulang kembali seperti sebuah siklus daur hidup kehidupan, dimana
struktur politik ekonomi yang telah ada dan kebijakan yang di jalankan
menyebabkan distorsi dalam penyampaian kepeningan kelompok miskin. Terjadinya
ketidakpastian arah perkembangan ekonomi.
Jika dalam sebuah
wilayah baik itu dalam bentuk kenegaraan maupun dalam bentuk daerah setingkat
provinsi, kabupaten dan kota tejadi dua hal utma diatas maka kombinasi yang
disebabkan keduanya dapat memperparah kondisi dan mempersempit ruang gerak
untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Menurut World Bank
(2005), kemiskinan di definiskan sebagai bentuk deprivasi dalam kesejahteraan.
Dan perampasan terhadap kebebasan untuk mencapai sesuatu dalam hidup seseorang.
Keberagaman dalam merumuskan pandangan terhadap kemiskinan dapat diartikan
bahwa kemiskinan merupakan fenomena multidimensi. Fenomena – fenomena ini yang
sulit terdefinisi secara mutlak sebagai suatu pengertian khusus. Namun
demikian, World Bank menyatakan bahwa kemiskinan tetap harus diukur dalam
bentuk parameter khusus sebagai gambaran untuk pengambilan kebijakan
penanggulangan kemiskinan. Parameter pengukuran yang dimaksud adalah
Jenis Kemiskinan
1. Kemiskinan Relatif
Kemisikinan relative
dapat dipengaruhi oleh pakem kebijakan pemerintah dalam membangun perekonomian
dimana hasil pemerataan pembangunan ekonomi belum mencapai lapisan masyarakat
terbawah sehingga gradasi sejahtera nampak sangat mencolok terkait jumlah penghasilan
dalam standar minimum. Di mana, standar minimum disusun berdasarkan kondisi
hidup suatu Negara pada waktu tertentu.
2. Kemiskinan Absolute
Secara statistic,
kemiskinan secara absolut ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mecakupi
kebutuhan pokok minimum seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan
pendidikan yang diperluka untuk bisa hidup dan bekerja. Kebutuhan pokok minimum
diterjemahan sebagai ukuran finansial dalam beentuk uang. Nilai kebutuhan
minimum kebutuhan dasar tersebut dikenal dengan istilah garis kemiskinan. Garis
kemiskinan diukur dalam bentuk jumlah pedapatan yang dihasilkan dalam suatu
periode, apabila pendapatan tersebut berada dibawah garis yang ditetapkan, maka
dapat tergolong kategori miskin.
Garis kemiskinan
absolut bersifat “tetap (tidak berubah)” dalam hal standar hidup, garis
kemiskinan absolute mampu membandingkan kemiskinan secara umum, di mana garis
kemiskinan absolut akan menjadi sangat penting jika seseorang akan mencoba
menilai efek dari kebijakan anti kemiskinan antar waktu, atau memperkirakan
dampak dari suat proyek terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan secara alamiah
akan terbentuk untuk membandingkan antara satu dan lainnya.
Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan
Dalam data statistic
yang dikeluarkan oleh BPS, konsep kemiskinan merujuk pada kemampuan seseorang
atau rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan dasar yang dirumuskan sebagai
ketidak mampuan seseorang yang diukur dari sisi ekonomi yang dimana pergerakan
jumlah fluktuatif angka kemiskinan yang sering kali berubah di sebabkan oleh
berapa factor penyebab terjadinya kemiskinan di sebuah wilayah, antara lain :
1. Tingkat Pendidikan
Yang Rendah
Factor pendidikan
merupakan kebutuhan pokok yang mana jika tidak terpenuhi akan menjadi bom waktu
yang menyebabkan seseorang kurang mempunyai ketrampilan tertetu yang diperlukan
dalam kehidupannya yang berakibat pada keterbatasan kemampuan untuk memasuki
dunia kerja.
2. Faktor Malas bekerja
Hal ini merupakan
penyakit yang sering sekali menjangkiti seseorang untuk maju dan merubah
nasibnya, banyak beranggapan bahwa nasib dan takdir dalam kemiskinan adalah
sebuah jalan hidup sehingga menyebabkan seseorang acuh tak acuh dan tidak
bergairah untuk bekerja.
3. Terbatasnya Lapangan
Kerja
Ketidakstabilan ekonomi
dan ketidakpastian arah politik dan kebijakan sebuah Negara maupun wilayah akan
langsung membawa konsekusensi keterbatasan lapangan kerja yang berdampak
langsung dalam mendorong terjadinya kemiskinan.
4. Keterbatasan Modal
Sebuah idiom klasik
ketika memutuskan untuk merubah taraf hidup untuk lebih baik, tidak memiiki
modal dalam rangka menerapkan ketrampilan yang dimiliki untuk menghasilkan
sesuatu.
5. Beban Keluarga
Merupakan permasalahan
yang sangat serius ketika banyaknya jumlah anggota keluarga tidak diimbangi
dengan peningkatan pendapatan yang akan menimbulkan kemiskinan, karena se-iring
banyaknya anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan dan beban hidup yang
harus dipenuhi.
Dampak Kemiskinan
Kemiskianan memberikan
dampak yang luas terhadap kehidupan, yang mana kemiskinan tak hanya sebagai
beban pribadi tetapi juga menjadi beban masyarakat, Negara dan dunia utuk
mengentaskannya. Kemiskinan yang mendera pada seseorang dapat berdampak sangat
serius terhadap kehidupan keluarganya, antara lain : perkembangan kehidupan
anak, penyakit social, kerusahan, ketidakteraturan akan aturan tata tertib.
2.2
Teori Investasi
Perhitungan Investasi harus konsisten dengan
perhitungan pendapatan nasional. Yang dimasukkan dalam perhitungan investasi
adalah barang modal, bangunan / kontruksi, maupun persediaan barang jadi yang
masih baru.
Investasi merupakan konsep aliran (flow concept), karena dihitung selama
satu internal periode tertentu. Tetapi investasi akan memengaruhi jumlah barang
modal yang tersedia (capital stock) pada satu periode tertentu. Tambahan stok
barang modal adalah sebesar pengeluaran investasi satu periode sebelumnya.
1.
Investasi dalam bentuk barang modal dan bangunan
Yang tercangkup dalam
invesatasi barang modal (capital goods) dan bangunan (construction) adalah
pengeluaran – pengeluaran untuk pembelian pabrik-pabrik, mesin-mesin,
peralatan-peralatan produksi dan bangunan-bangunan atau gedung-gedung yang
baru. Karena daya tahan barang modal dan bangunan pada umumnya lebih dari
setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta
tetap (fixed investment).
2.
Investasi persediaan
Berdasarkan
pertimbangan, perusahaan seringkali harus memproduksi lebih banyak daripada
target penjualan. Misalnya, sebuah pabrik mobil menargetkan penjualan tahun
2.000 adalah 50.000 unik. Tidaklah berarti produksinya harus 50.000 unit juga.
Umumnya produksinya melebihi tingkat penjualan. Sebut saja 60.000 unit. Selisih
10.000 unit merupakan persediaan, untuk mengatisipasinya berbagai kemungkinan.
Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan /
keuntungan.
Kriteria Investasi
Minimal ada 4 kriteria
investasi yang digunakan dalam praktik, yaitu :
1.
Payback Period
Payback period (periode
pulag pokok) adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan
dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika
waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik.
Kendatipun kita harus mempertimbangkan criteria payback ini. Sebab, ada
investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (>5 tahun).
2.
Benefit / cost ratio (B/C Ratio)
B/C Ratio mengukur mana
yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan disbanding hasil output yang
diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan sebagai C (Cost). Output yang
dihasilkan sebagai B (benefit). Jika nilai B/C sama dengan 1 maka B = C yang
dihasilkan sama dengan biaya yang dikeluarkan.
3.
Net Present Value (NPV)
Keuntungan lain dengan
menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai
sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang
disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV >
0, sebab nilai sekarang dari permintaan total lebih besar daripada nilai sekarang
dari biaya total.
4.
Internal Rate of
return ( IRR )
Internal rate of return
( IRR ) adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihirung pada saat NPV
sama dengan nol. Jika pada saat NPV = 0, nilai IRR = 12%, maka tingkat
pengembalian investasi adalah 12%. Keputusan menerima atau menolak rencana
investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat
pengembalian investasi yang di inginkan (r). jika r yang diinginkan adalah 15%,
sementara IRR hanya 12%, proposal invastasi ditolak. Begitu juga sebaliknya.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat
Investasi
1. Tingkat pengembalian Yang Diharapkan (
Expected Rate Of Return )
Kemampuan perusahaan
menentukan tingkat investasi yang diharapkan, sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal
perusahaan.
2. Kondisi Internal Perusahaan
Kondisi internal adalah
factor-faktor yang berada di bawah control perusahaan, misalnya tingkat
efisiensi, kualitas SDM dan teknologi yang digunakan. Ketiga aspek tersebut
berhubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan. Artinya, makin
tinggi tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi, maka tingkat pengembalian
yang diharapkan makin tinggi.
3. Kondisi Eksternal Perusahaan
Kondisi eksternal yang
perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi terutama
adalah perkiraan tentang tingkat produkdi dan pertumbuhan ekonomi domestic
maupun internasional. Jika diperkirakan tentang masa depan ekonomi nasional
maupun dunia bernada optimis, biasanya tingkat investasi meningkat, karena
tingkat pengembalian investasi dapat dinaikkan.
Selain perkiraan
kondidi ekonomi, kebijakan yang ditempuh pemerintah juga dapat menentukan
tingkat investasi. Kebijakan menaikkan paak, misalnya, diperkirakan akan
menurunkan tingkat permintaan akan agregat. Akibatnya tingkat investasi akan
menurun. Factor sosial politik juga menentukan gairah investasi, jika
sosial-politik makin stabil, investasi umumnya juga meningkat. Demikian pula
factor keamanan (kondisi keamanan Negara).
5.
Biaya investasi
Yang paling menentukan
tingkat biaya investasi adalah tingkat bungan pinjaman ; makin tinggi tingkat
bunganya, maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat berinvestasi makin
menurun. Namun , tidak jarang,walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minta akan
investasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya tota investasi masih tinggi.
Factor yang mempengaruhi terutama adalah masalah kelembagaan.
6. Marginal efficiency of capital (MEC), tingkat
bunga, dan marginal efficieny of investment (MEI)
a. Marginal efficiency
of capital (MEC),Invetasi, dan tingkat bunga
Yang dmaksud dengan
marginal efficiency of capital (MEC) atau efisiensi modal marjinal (EMM) adalah
tingkat pengembalian yang di harapkan (expected rate of return) dari setiap
tambahan barang modal.
b. Marginal efficiency
of capital (MEC) dan marginal efficiency of investment (MEI)
Sama
halnya dengan kurva permintaan akan investasi, kurva MEC secara nasional dapat
di turunkan dengan menjumlahkan secara horizontal kurva-kurva MEC dari
perusahaan-perusahaan yang ada dalam perekonimian tetapi ada beberapa ekonom
yang tidak sependapatan dengan cara penurunan kurva MEC. Padahal jika
permintaan barang akan modal secara nasional meningkat, logikanya tingkat bunga
akan naik. Akibatnya kenaikan permintaan akan investasi tidak sebesar lurva MEC
. kurva yang lebih relevan adalah kurva yang marginal efficiency of investment
(MEI) atau efisiensi investasi marginal (EIM)
Jadi,dapat disimpulkan
bahwa Investasi (Penanaman Modal) adalah pengeluaran atau perbelanjaan
penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan
perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi
barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Investasi atau
pembentukan modal merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran
agregat.Dan Dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1967 ditegaskan bahwa Pengertian
penanaman modal asing di dalam Undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman
modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan
ketentuan-ketentuan Undang-undang ini dan yang digunakan untuk menjalankan
perusahaan di Indonesia, dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung
menanggung risiko dari penanaman modal.
BAB III KEMISKINAN
DAN TINGKAT INVESTASI DI INDONESIA
3.1
Tingkat
Kemiskinan di Indonesia
Pemerintah terus berupaya untuk menurunkan angka kemiskinan di
Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial tahun 2017 terdapat 26,58 juta
penduduk miskin atau sekitar 10,12 persen di Indonesia. Demikian disampaikan
Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham dalam Dialog Nasional Indonesia Maju di Sragen, Jawa Tengah, Sabtu
(31/3/2018). Idrus menjelaskan, angka kemiskinan di Indonesia sekarang turun
1,2 juta jiwa atau sekitar 0,5 persen. "Sekarang ini angka kemiskinan di
Indonesia turun sebanyak 1,2 juta jiwa," kata Idrus. Idrus menyatakan
pemerintah terus melakukan perluasan terhadap penerima keluarga manfaat program
keluarga harapan (PKH). Perluasan program ini dinilai efektif dan mampu
menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. "Pemerintah menargetkan angka
kemiskinan di tahun 2019 nanti turun 9 persen," jelas dia. Oleh sebab itu,
pihaknya menegaskan perlu ada pengetatan validasi terhadap keluarga penerima
manfaat PKH agar tepat sasaran. Sehingga program pemerintah untuk mengentaskan
kemiskinan tersebut benar-benar tepat sasaran. Sementara itu, Bupati Sragen
Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang juga hadir dalam dialog nasional memaparkan,
Kabupaten Sragen masuk dalam zona merah kemiskinan. Menurut dia angka
kemiskinan di Sragen mencapai 13,8 persen. "PR (pekerja rumah) kita yang
utama adalah bagaimana mengentaskan kemiskinan. Kita ingin nantinya bisa
mengikuti target nasional bahwa angka kemiskinan turun menjadi 9 persen,"
ungkap dia. Dirinya mengaku dapat masukan dari Mensos tentang bagaimana
mengentaskan kemiskinan di Sragen. Sebab, kata Yuni, angka kemiskinan di Sragen
masih lebih tinggi dari Jawa Tengah yakni 11 persen dan nasional 10,12 persen.
"Kita berusaha menurunkan itu (angka kemiskinan). Beberapa pengarahan sudah
disampaikan Bapak Menteri sehingga menjadi target kita ke depan,"
paparnya. (sunber: ekonomi.kompas.com)
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menyebutkan
Rencana Kerja Pemerintah untuk target persentase kemiskinan pada 2018 ini
berada di kisaran 9,5 – 10 persen. Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro
menyebutkan saat ini adalah momentum baik untuk menurunkan angka kemiskinan
Indonesia hingga mencapai single digit.
Angka kemiskinan Indonesia pada September 2017 lalu berada di level
10,12 persen dengan jumlah absolut sebesar 26,58 juta jiwa. Pada 2016, sebesar
10,70 persen atau sebesar 27,76 juta jiwa.
“Tingkat kemiskinan pada September 2017 mencapai titik terendah selama
hampir dua dekade, yaitu menjadi sebesar 10,12 persen. Terjadi pengurangan
sekitar 1,18 juta jiwa penduduk miskin, padahal sebelumnya rata-rata penurunan
kemiskinan hanya kurang dari 500 ribu orang per tahun,” kata Bambang di kantor
Kementerian PPN/Bappenas Jakarta pada Selasa (9/1/2018).
Ia menambahkan, faktor pendorong penurunan angka kemiskinan ini meliputi
inflasi 2017 yang terjaga dan stabil dalam rentang target 4 kurang lebih 1
persen. Dalam kurun waktu Maret-September 2017, inflasi umum dapat dijaga pada
tingkat 1,45 persen dan pemerintah berhasil menjaga stabilitas harga pada Hari
Raya Lebaran, terutama komponen makanan.
Selain itu, meningkatnya upah riil buruh tani sebesar 1,05 persen dalam
6 bulan terakhir. Ia mengatakan, buruh tani adalah salah satu tenaga kerja yang
tergolong miskin paling banyak. “Peningkatan upah riil buruh tani sangat
membantu peningkatan kesejahteraan petani. Hal ini mendukung menurunnya
kemiskinan di perdesaan,” ujar Bambang.
Faktor selanjutnya, adanya integrasi program-program penanggulangan
kemiskinan. “Kalau kita bisa integrasikan program untuk penurunan tingkat
kemiskinan, maka target penurunan kemiskinan dapat lebih cepat tercapai,”
ungkapnya.
Ada pun integrasi program-program penanggulangan kemiskinan yang dimaksud
meliputi. Pertama, perbaikan basis data untuk target dan penyaluran non tunai
melalui satu kartu. Kedua, penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) yang
terintegrasi dengan bantuan lain untuk mendorong akumulasi aset/tabungan dan
kases layanan lainnya.
Ketiga, reformasi subsidi pangan dan energi tepat sasaran; dan keempat
adalah optimalisasi penggunaan dana desa yang turut menurunkan kemiskinan di
wilayah perdesaan.
“Mengurangi subsidi menjadi bentuk reformasi subdisi agar tepat sasaran.
Subsidi dialihkan menjadi bantuan langsung, dalam bentuk bantuan sosial. Kalau
kerja sama itu case by case kami terbuka juga. Tapi biasanya, perusahaan CSR
ada target sendiri. Zakat juga. Yang bisa kami lakukan adalah koordinasi,”
terangnya.
Dalam perbaikan penyaluran bantuan ini, pemerintah akan lebih
berhati-hati, seperti untuk perluasan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). “BPNT
ini ujung tombak karena KIS (Kartu Indonesia Sehat) dan KIP (Kartu Indonesia
Pintar) relatif sudah tepat sasaran. Yang relatif kurang tepat sasaran adalah
rastra (beras sejahtera). Jadi jurus untuk single digit adalah penguatan tepat
sasaran dengan BPNT,” ujarnya. (sumber: tirto.id)
3.2
Tingkat Investasi
Di Indonesia
Tahun 2018 diprediksi menjadi tahun dengan
iklim investasi tepat di pasar modal. Hanya, ada beberapa faktor yang akan
memengaruhi laju saham Indonesia.
Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi
menjelaskan, tahun ini masih memberikan harapan positif bagi kinerja Bursa Efek
Indonesia (BEI). Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada
di atas pertumbuhan ekonomi global.
"Walaupun di 2018 ini, akan menjadi tahun
politik. Banyak pihak yang memprediksi akan terjadi sedikit penurunan terhadap
laju saham di Indonesia," ujar Gundy melalui keterangan resmi, Kamis,
(22/2).
Menurut dia, kondisi pasar modal Indonesia
sudah cukup kebal dengan pengaruh politik. Sebab, sudah teruji pada 2004, 2009,
dan 2014.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul
Hidayat menambahkan, faktor yang berkontribusi dalam pergerakan bursa saham,
khususnya di Indonesia, terbagi dalam faktor dan mikro. "Faktor makro
tentunya meliputi bagaimana report negara kita, terutama terkait dengan
stabilitas nilai rupiah, tingkat inflasi, pengelolaan fiskal, dan faktor
fundamental perusahaan," kata dia.
Lebih lanjut, Samsul menjelaskan, pertumbuhan
positif pasar Indonesia. Pada 2012 sampai 2017 tingkat Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) tumbuh sebesar 7,1 per tahun. Sejalan dengan pertumbuhan IHSG,
aktivitas transaksi pada 2012 sampai 2017 pun tumbuh dari Rp 4 triliun ke Rp
7,5 triliun.
Sementara dari sektor eksternal, kata dia,
Amerika Serikat masih menjadi kiblat pasar modal. Kekhawatiran terhadap
presiden baru AS serta kebijakan pemerintah AS dalam hal menurunkan suku bunga
dan menaikkan pajak yang awalnya menjadi pertimbangan bagi investor, ternyata
tidak terbukti, malah cukup prudent dalam menjalankan pemerintah.
Ia memperkirakan, kebijakan AS untuk
meningkatkan suku bunga dan menaikkan pajak akan menarik dana-dana global dan
menjadi kalkulasi pra investor. "Mereka cenderung akan mengamankan
investasi mereka di emerging markets dan akan sangat berhati-hati pada pada
profit taking," kata Samsul.
Kemudian, pertumbuhan investor domestik dalam
dua tahun terakhir mencapai 200 ribu, dari yang sebelumnya sebanyak 400 ribu
investor, menjadi 600 ribu investor. "Daya serap pasar domestik kita cukup
baik," kata Samsul.
Mungkin ini, kata dia, merupakan dampak dari
kegiatan pengampunan pajak yang dibuat oleh pemerintah waktu itu, di mana
dana-dana tax amnesty dimanfaatkan atau dimasukkan ke sektor pasar modal.
Kondisi ini diharapkan mampu membuat pasar modal Indonesia lebih stabil
terhadap perubahan-perubahan pasar dunia. (sumber: republika.co.id)
3.3
Faktor Penghambat
Pertumbuhan Tingkat Investasi Indonesia
Bank Dunia melihat iklim investasi di Indonesia
belum bisa tumbuh maksimal karena ada beberapa faktor penghambat. Salah satu
penghambat tersebut adalah adanya aturan-aturan yang tidak menguntungkan bagi
investor.
Setidaknya, saat ini terdapat 100 peraturan perundang-undangan
di Indonesia terkait skema pendanaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha atau
Public Privat Partnership (PPP) yang tidak konsisten. Kondisi tersebut selama
ini menghambat masuknya investasi swasta dalam berbagai pembangunan proyek.
Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim
mengungkapkan, ada beberapa penyebab pembiayaan sektor swasta di Indonesia
masih terhambat. Salah satunya mengenai peraturan-peraturan yang tidak
menguntungkan swasta guna menanamkan modal dalam pembangunan proyek infrastruktur
di Tanah Air.
"Kami sudah mengidentifikasi 100 peraturan
perundang-undangan yang mengatur PPP yang tidak konsisten satu sama lain, dan
kurang menguntungkan swasta," kata Kim saat acara Indonesia Infrastructure
Finance Forum di Fairmont Hotel, Jakarta, Selasa (25/7/2017).
Kim menjelaskan, peraturan tersebut seringkali
lebih menguntungkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ketimbang swasta. BUMN
lebih mudah mendapatkan proyek, dan sebagainya. "BUMN seyogyanya tidak
diberikan hak pengelolaan proyek. Harus ada mekanisme kompetisi di sini untuk
mendorong praktik terbaik di sektor infrastruktur," tegasnya.
Lebih jauh, tuturnya, pemerintah Indonesia
harus segera memperbaiki regulasi, pengelolaan BUMN dengan merevisi insentif
dan mempersiapkan perencanaan proyek secara matang supaya jelas bagi seluruh
pemangku kepentingan yang terlibat.
"Ini dilakukan untuk menarik lebih banyak
swasta dalam pendanaan proyek infrastruktur. Karena Indonesia membutuhkan
investasi US$ 500 miliar dalam 5 tahun ke depan guna mengurangi kesenjangan
infrastruktur. Itu berarti, belanja infrastruktur naik dari 2 persen menjadi
4,7 persen dari PDB atau dua kali lipat di 2020," ujar Kim.
Akan tetapi, faktanya, Kim menambahkan,
anggaran pemerintah sangat terbatas karena pengumpulan pajak yang belum
maksimal serta defisit anggaran yang dibatasi tidak boleh lebih dari 3 persen
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah Indonesia, sambungnya, hanya mampu
memungut pajak kurang dari 50 persen dari potensi yang ada, karena rasio pajak
terhadap PDB mengalami penurunan dari 11,4 persen menjadi 10,4 persen.
"Bahkan pemungutan pajak di Indonesia lebih rendah dari Filipina yang 13,6
persen, sedangkan tantangannya sama dengan kita," jelas Kim.
Kim menegaskan, Bank Dunia mendukung pemerintah
Indonesia melaksanakan reformasi perpajakan untuk bisa meningkatkan rasio pajak
1,1 persen terhadap PDB. "Seluruh dunia sedang melihat Indonesia karena
tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ekonomi Indonesia sudah naik 10 kali
lipat dibanding periode 1990-an sehingga memberikan daya tarik bagi
dunia," ia menerangkan.
Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Abiprayadi
Riyanto menyatakan pengetahuan minim soal pasar modal menjadi penyebab kurang
berkembangnya investasi jangka panjang seperti saham.
Abiprayadi mengatakan, hal tersebut terlihat
dari jumlah investor di saham yang saat ini hanya sekitar 600 ribu. Padahal
manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberikan kemudahan dalam
investasi.
"Pemahaman investasi itu sendiri, misal
BEI dulu 1 lot 500 lembar sekarang 100 mudah dan makin murah. Pertanyaannya
saham apa, edukasi ini belum tersentuh," ujarnya.
Dia pun mengatakan, saham sendiri memiliki
imbal hasil yang besar. Itu dibuktikan dari harga saham yang membengkak dari
tahun ke tahun."Saya kasih contoh waktu PT Bank Mandiri Tbk go public
sahamnya Rp 650. Sekarang Rp 12 ribu itu 20 kalilipat," ujar Abiprayadi.
Hal senada diungkapkan Direktur Utama PT
Syailendra Capital Jos Parengkuan yang menyatakan jika pemahaman investasi
merupakan kendala saat ini. Dia menuturkan, selama ini masyarakat Indonesia
menjadikan perbankan sebagai panduan investasi masyarakat.
"Mereka lupa kalau uang bank 8 persen per
tahun, suku bunga bank dekat inflasi.
Nyatanya, inflasi tersebut tidak jauh dari
realitas sehari-hari. Ia menyebutkan, kenaikan harga cabai dan daging melebihi
angka inflasi yang lebih dari 4 persen. "Berarti apa kalau naruh uang di
bank, lama kelamaan daya beli kita mengecil itulah kenapa berpikir
investasi," ujar dia. (Amd/Ahm)
3.4 Edukasi Tentang Pentingnya Investasi Di Indonesia
Investasi sangat penting dalam upaya pengatasan
kemiskinan di Indonesia. Kesadaran berinvestasi perlu mulai ditumbuhkan oleh
masyarakat Indonesia melihat potensi dan manfaat yang dapat didatangkan dari
berinvestasi, diantaranya dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di Indonesia.
Beberapa upaya mulai dilakukan oleh pemerintah maupun beberapa kelompok
tertentu dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berinvestasi. Salah
satu usaha yang mulai dilakukan adalah sosialisasi akan pentingnnya investasi
kepada para mahasiswa oleh PT MNC Asset Management memberikan edukasi dan
sosialisasi mengenai pasar modal, salah satunya terkait pentingnya berinvestasi
sejak dini kepada mahasiswa Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.
Kunjungan ini merupakan kegiatan pertama yang
dilakukan oleh mahasiswa di Kantor MNC Asset Management. Chief Executive
Officer (CEO) MNC Asset Management Frery Kojongian menyambut baik kedatangan
mahasiswa yang menunjukkan besarnya minat keingintahuan generasi muda dalam
mempelajari reksa dana. "Saya bangga ada mahasiswa Andalas jauhjauh datang
berkunjung ke kantor, ini sangat luar biasa. Ini hal yang baik yang harus
diapresiasi dan harus kita dukung dengan memberikan edukasi mengenai reksa dana,
supaya jumlah investor muda bertambah banyak,” katanya di Jakarta kemarin.
Dirinya pun berharap, dengan kegiatan ini
generasi milenial dapat terus berinvestasi reksa dana ataupun saham. Menurut
dia, kegiatan serupa akan diagendakan secara berkala sebagai upaya
memfasilitasi kebutuhan dari kaum akademisi mempelajari instrumen investasi
reksa dana. Kegiatan seperti ini juga untuk merealisasikan imbauan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) dalam meningkatkan angka literasi keuangan di kalangan
masyarakat. "Mudah-mudahan bermanfaat dan ilmu yang kami sharebisa
diinfokan kembali kepada keluarga dan kerabat mereka di tempat tinggal
masingmasing,” ujarnya. Frery menambahkan, kegiatan serupa akan diagendakan
secara berkala sebagai upaya memfasilitasi kebutuhan dari kaum akademisi
mempelajari instrumen investasi reksa dana.
“Kegiatan seperti ini juga untuk merealisasikan
imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam meningkatkan angka literasi keuangan
di kalangan masyarakat,” tuturnya. Sementara itu, di Bandung PT MNC Asset Management
mengajak Asosiasi Bankir Bandung menjadikan investasi sebagai gaya hidup.
Branch Manager MNC Asset Management Bandung Joelia Ratna Sari mengatakan,
dengan mengaplikasikan perencanaan keuangan dan investasi melalui reksa dana,
maka tak sulit bagi masyarakat untuk merealisasikan financial freedom dalam
hidup. “Sebenarnya saya yakin sudah banyak yang mulai menyadari pentingnya
berinvestasi, mengetahui tentang reksa dana, manfaat dan keuntungannya. Hanya
saja, tidak semua memiliki semangat untuk mempraktikkannya,” katanya.
Lebih lanjut Joelia mengungkapkan, MNC Asset
Management berbagi semangat investasi kepada peserta dari Asosiasi Bankir
Bandung yang hadir. “Di sini kami menunjukkan kepada para peserta actionnya
dalam berinvestasi di reksa dana,” ujarnya. (sumber: koran-sindo.com)
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan
penulisan makalah diatas, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan,
yaitu:
1. Permasalahan kemiskinan
di Indonesia masih menjadi salah satu permasalahan penting di Indonesia.
Tingkat kemiskinan di Indonesia masih lebih tinggi dari beberapa negara
tetangga seperti Malaysia, timor leste, singapura, dan Thailand.
2. Meskipun mempunyai
potensi yang sangat besar, tingkat investasi di Indonesia masih belum dapat
dinilai cukup.
3.
Sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya investasi untuk
mengatasi masalah kemiskinan dinilai sangat diperlukan untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya investasi.
4.2 Saran
Dari
penulisan makalah ini, penulis memiliki beberapa saran diantaranya:
1. Masyarakat perlu
menyadari tentang betapa pentingnya investasi sejak dini, tidak hanya untuk
diri sendiri akan tetapi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia secara aggregate.
2. Pemerintah diharapkan
untuk lebih sering mengadakan sosialisasi dan edukasi tentang investasi,
terutama di daerah – daerah yang masih minim tingkat investasinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar