Rabu, 13 Juni 2018

investasi


PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT AKAN PENTINGNYA BERINVESTASI DALAM USAHA PENGENTASAN KEMISKINAN












BAB 1

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang


Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk masalah yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang. Masalah kemiskinan ini menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah secara berencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang singkat. Upaya pemecahan masalah kemiskinan tersebut sebagai upaya untuk mempercepat proses pembangunan yang selama ini sedang dilaksanakan.

Di Indonesia sendiri, kemiskinan masih menjadi problematika yang masih menjadi tugas bagi pemerintah. Data OJK tahun 2018 menunjukan tingkat kemiskinan Indonesia masih berada di titik yang cukup mengkhawatirkan, hal indi ditunjukan dengan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia yang mencapai  6,8-7 juta oran, 4,4% dari seluruh penduduk Indonesia  dimana provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Jawa Barat yaitu 8,16% dan terendah ada di Provinsi Bali yang hanya 0,8%. Tingkat pengangguran di Indonesia masih lebih tinggi dari Myanmar dan Timor Leste yang berada pada kisaran 4,1%, Malaysia 3,30%, singapura 2%, dan Thailand di angka 1,2%.

Salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia adalah dengan cara melakukan investasi ke daerah – daerah potensial. Ha ini dilakukan  karena investasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Investasi ini juga erat kaitannya dengan penyerapan tenaga kerja sehingga dapat menurunkan angka pengangguran. Akan tetapi pentingnya investasi belum didorong oleh kesadaran masyarakat untuk berinvestasi, di tahun 2018 tercatat bahwa masyarakat yang berinvestasi hanya 0,4% dari seluruh penduduk di Indonesia.

1.2  Rumusan Masalah


Berdasarkan permasalahan tentang kemiskinan dan rendahnya tingkat investasi, maka penulis mencoba membahas:
1.      Bagaimanakah keadaan kemiskinan dan tingkat investasi di Indonesia?
2.      Apa saja hambatan- hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan investasi di Indonesia?
3.      Bagaiman edukasi dapat mendorong pertumbuhan tingkat investasi di Indonesia?

1.3  Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui  keadaan kemiskinan dan tingkat investasi di Indonesia.
2.      Mengetahui Apa saja hambatan- hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan investasi di Indonesia.
3.      Mengetahui Bagaimaa edukasi dapat mendorong pertumbuhan tingkat investasi di Indonesia.

1.4  Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Sebagai data untuk menunujukan keadaan tingkat kemiskinan dan investasi di Indonesia.
2.      Sebagai sumber  pengetahuan bagi masyarakat tentang pentingnya investasi.
3.      Untuk menambah kemampuan penulis dalam menulis makalah agar dapat bermanfaat dimasa mendatang.


















BAB II

 LANDASAN TEORI


2.1 Teori Kemiskinan


kemiskinan adalah sebuah kondisi dimana kemampuan kehidupan seseorang maupun berkelompok masyarakat yang hidup dibawah garis yang di tetapkan oleh pemerintah dalam hal ini mengenai ekonomi. Jadi kemiskinan adalah suatu bentuk kegagalan perkembangan ekonomi oleh pemerintah. Karena tingkat kesejahteraan masyarakat di tentukan oleh kebijakan ekonomi pemerintah.
Penyebab Kemiskinan
1.      Market Failure
Hal ini dapat terjadi ketika sebagian kelompok miskin termasuk angkatan kerja memperoleh upah kerja yang dibawah standar kebutuhan hidup layak (KHL) untuk mencukupi kebutuhan poko (sandang, pangan, kesehatan, pendidikan).
2.      Political Failure
Kejadian ini bisa saja akan terulang kembali seperti sebuah siklus daur hidup kehidupan, dimana struktur politik ekonomi yang telah ada dan kebijakan yang di jalankan menyebabkan distorsi dalam penyampaian kepeningan kelompok miskin. Terjadinya ketidakpastian arah perkembangan ekonomi.
Jika dalam sebuah wilayah baik itu dalam bentuk kenegaraan maupun dalam bentuk daerah setingkat provinsi, kabupaten dan kota tejadi dua hal utma diatas maka kombinasi yang disebabkan keduanya dapat memperparah kondisi dan mempersempit ruang gerak untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Menurut World Bank (2005), kemiskinan di definiskan sebagai bentuk deprivasi dalam kesejahteraan. Dan perampasan terhadap kebebasan untuk mencapai sesuatu dalam hidup seseorang. Keberagaman dalam merumuskan pandangan terhadap kemiskinan dapat diartikan bahwa kemiskinan merupakan fenomena multidimensi. Fenomena – fenomena ini yang sulit terdefinisi secara mutlak sebagai suatu pengertian khusus. Namun demikian, World Bank menyatakan bahwa kemiskinan tetap harus diukur dalam bentuk parameter khusus sebagai gambaran untuk pengambilan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Parameter pengukuran yang dimaksud adalah
Jenis Kemiskinan
1. Kemiskinan Relatif
Kemisikinan relative dapat dipengaruhi oleh pakem kebijakan pemerintah dalam membangun perekonomian dimana hasil pemerataan pembangunan ekonomi belum mencapai lapisan masyarakat terbawah sehingga gradasi sejahtera nampak sangat mencolok terkait jumlah penghasilan dalam standar minimum. Di mana, standar minimum disusun berdasarkan kondisi hidup suatu Negara pada waktu tertentu.
2. Kemiskinan Absolute
Secara statistic, kemiskinan secara absolut ditentukan berdasarkan ketidakmampuan untuk mecakupi kebutuhan pokok minimum seperti pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang diperluka untuk bisa hidup dan bekerja. Kebutuhan pokok minimum diterjemahan sebagai ukuran finansial dalam beentuk uang. Nilai kebutuhan minimum kebutuhan dasar tersebut dikenal dengan istilah garis kemiskinan. Garis kemiskinan diukur dalam bentuk jumlah pedapatan yang dihasilkan dalam suatu periode, apabila pendapatan tersebut berada dibawah garis yang ditetapkan, maka dapat tergolong kategori miskin.

Garis kemiskinan absolut bersifat “tetap (tidak berubah)” dalam hal standar hidup, garis kemiskinan absolute mampu membandingkan kemiskinan secara umum, di mana garis kemiskinan absolut akan menjadi sangat penting jika seseorang akan mencoba menilai efek dari kebijakan anti kemiskinan antar waktu, atau memperkirakan dampak dari suat proyek terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan secara alamiah akan terbentuk untuk membandingkan antara satu dan lainnya.

Faktor Yang Mempengaruhi  Kemiskinan
Dalam data statistic yang dikeluarkan oleh BPS, konsep kemiskinan merujuk pada kemampuan seseorang atau rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan dasar yang dirumuskan sebagai ketidak mampuan seseorang yang diukur dari sisi ekonomi yang dimana pergerakan jumlah fluktuatif angka kemiskinan yang sering kali berubah di sebabkan oleh berapa factor penyebab terjadinya kemiskinan di sebuah wilayah, antara lain :
1. Tingkat Pendidikan Yang Rendah
Factor pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang mana jika tidak terpenuhi akan menjadi bom waktu yang menyebabkan seseorang kurang mempunyai ketrampilan tertetu yang diperlukan dalam kehidupannya yang berakibat pada keterbatasan kemampuan untuk memasuki dunia kerja.
2. Faktor Malas bekerja
Hal ini merupakan penyakit yang sering sekali menjangkiti seseorang untuk maju dan merubah nasibnya, banyak beranggapan bahwa nasib dan takdir dalam kemiskinan adalah sebuah jalan hidup sehingga menyebabkan seseorang acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja.



3. Terbatasnya Lapangan Kerja
Ketidakstabilan ekonomi dan ketidakpastian arah politik dan kebijakan sebuah Negara maupun wilayah akan langsung membawa konsekusensi keterbatasan lapangan kerja yang berdampak langsung dalam mendorong terjadinya kemiskinan.
4. Keterbatasan Modal
Sebuah idiom klasik ketika memutuskan untuk merubah taraf hidup untuk lebih baik, tidak memiiki modal dalam rangka menerapkan ketrampilan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu.
5. Beban Keluarga
Merupakan permasalahan yang sangat serius ketika banyaknya jumlah anggota keluarga tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan yang akan menimbulkan kemiskinan, karena se-iring banyaknya anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan dan beban hidup yang harus dipenuhi.
Dampak Kemiskinan
Kemiskianan memberikan dampak yang luas terhadap kehidupan, yang mana kemiskinan tak hanya sebagai beban pribadi tetapi juga menjadi beban masyarakat, Negara dan dunia utuk mengentaskannya. Kemiskinan yang mendera pada seseorang dapat berdampak sangat serius terhadap kehidupan keluarganya, antara lain : perkembangan kehidupan anak, penyakit social, kerusahan, ketidakteraturan akan aturan tata tertib.

2.2                        Teori Investasi


Perhitungan Investasi harus konsisten dengan perhitungan pendapatan nasional. Yang dimasukkan dalam perhitungan investasi adalah barang modal, bangunan / kontruksi, maupun persediaan barang jadi yang masih baru.
Investasi merupakan konsep aliran (flow concept), karena dihitung selama satu internal periode tertentu. Tetapi investasi akan memengaruhi jumlah barang modal yang tersedia (capital stock) pada satu periode tertentu. Tambahan stok barang modal adalah sebesar pengeluaran investasi satu periode sebelumnya.

1.      Investasi dalam bentuk barang modal dan bangunan

Yang tercangkup dalam invesatasi barang modal (capital goods) dan bangunan (construction) adalah pengeluaran – pengeluaran untuk pembelian pabrik-pabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan produksi dan bangunan-bangunan atau gedung-gedung yang baru. Karena daya tahan barang modal dan bangunan pada umumnya lebih dari setahun, seringkali investasi ini disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).



2.      Investasi persediaan

Berdasarkan pertimbangan, perusahaan seringkali harus memproduksi lebih banyak daripada target penjualan. Misalnya, sebuah pabrik mobil menargetkan penjualan tahun 2.000 adalah 50.000 unik. Tidaklah berarti produksinya harus 50.000 unit juga. Umumnya produksinya melebihi tingkat penjualan. Sebut saja 60.000 unit. Selisih 10.000 unit merupakan persediaan, untuk mengatisipasinya berbagai kemungkinan. Tentu saja investasi persediaan diharapkan meningkatkan penghasilan / keuntungan.
Kriteria Investasi
Minimal ada 4 kriteria investasi yang digunakan dalam praktik, yaitu :
1.            Payback Period

Payback period (periode pulag pokok) adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun kita harus mempertimbangkan criteria payback ini. Sebab, ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (>5 tahun).

2.            Benefit / cost ratio (B/C Ratio)

B/C Ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan disbanding hasil output yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan sebagai C (Cost). Output yang dihasilkan sebagai B (benefit). Jika nilai B/C sama dengan 1 maka B = C yang dihasilkan sama dengan biaya yang dikeluarkan.

3.            Net Present Value (NPV)

Keuntungan lain dengan menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari permintaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya total.

4.            Internal  Rate of return ( IRR )

Internal rate of return ( IRR ) adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihirung pada saat NPV sama dengan nol. Jika pada saat NPV = 0, nilai IRR = 12%, maka tingkat pengembalian investasi adalah 12%. Keputusan menerima atau menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang di inginkan (r). jika r yang diinginkan adalah 15%, sementara IRR hanya 12%, proposal invastasi ditolak. Begitu juga sebaliknya.




Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Investasi

1.       Tingkat pengembalian Yang Diharapkan ( Expected Rate Of Return )
Kemampuan perusahaan menentukan tingkat investasi yang diharapkan, sangat dipengaruhi  oleh kondisi internal dan eksternal perusahaan.

2.      Kondisi Internal Perusahaan
Kondisi internal adalah factor-faktor yang berada di bawah control perusahaan, misalnya tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi yang digunakan. Ketiga aspek tersebut berhubungan positif dengan tingkat pengembalian yang diharapkan. Artinya, makin tinggi tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi, maka tingkat pengembalian yang diharapkan makin tinggi.

3.      Kondisi Eksternal Perusahaan
Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi terutama adalah perkiraan tentang tingkat produkdi dan pertumbuhan ekonomi domestic maupun internasional. Jika diperkirakan tentang masa depan ekonomi nasional maupun dunia bernada optimis, biasanya tingkat investasi meningkat, karena tingkat pengembalian investasi dapat dinaikkan.
Selain perkiraan kondidi ekonomi, kebijakan yang ditempuh pemerintah juga dapat menentukan tingkat investasi. Kebijakan menaikkan paak, misalnya, diperkirakan akan menurunkan tingkat permintaan akan agregat. Akibatnya tingkat investasi akan menurun. Factor sosial politik juga menentukan gairah investasi, jika sosial-politik makin stabil, investasi umumnya juga meningkat. Demikian pula factor keamanan (kondisi keamanan Negara).

5.            Biaya investasi
Yang paling menentukan tingkat biaya investasi adalah tingkat bungan pinjaman ; makin tinggi tingkat bunganya, maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat berinvestasi makin menurun. Namun , tidak jarang,walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minta akan investasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya tota investasi masih tinggi. Factor yang mempengaruhi terutama adalah masalah kelembagaan.

6.    Marginal efficiency of capital (MEC), tingkat bunga, dan marginal efficieny of investment (MEI)
a. Marginal efficiency of capital (MEC),Invetasi, dan tingkat bunga
Yang dmaksud dengan marginal efficiency of capital (MEC) atau efisiensi modal marjinal (EMM) adalah tingkat pengembalian yang di harapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal.
b. Marginal efficiency of capital (MEC) dan marginal efficiency of investment (MEI)
Sama halnya dengan kurva permintaan akan investasi, kurva MEC secara nasional dapat di turunkan dengan menjumlahkan secara horizontal kurva-kurva MEC dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam perekonimian tetapi ada beberapa ekonom yang tidak sependapatan dengan cara penurunan kurva MEC. Padahal jika permintaan barang akan modal secara nasional meningkat, logikanya tingkat bunga akan naik. Akibatnya kenaikan permintaan akan investasi tidak sebesar lurva MEC . kurva yang lebih relevan adalah kurva yang marginal efficiency of investment (MEI) atau efisiensi investasi marginal (EIM)
Jadi,dapat disimpulkan bahwa Investasi (Penanaman Modal) adalah pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Investasi atau pembentukan modal merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran agregat.Dan Dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1967 ditegaskan bahwa Pengertian penanaman modal asing di dalam Undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan Undang-undang ini dan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung risiko dari penanaman modal.



BAB III KEMISKINAN DAN TINGKAT INVESTASI DI INDONESIA


3.1            Tingkat Kemiskinan di Indonesia


Pemerintah terus berupaya untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial tahun 2017 terdapat 26,58 juta penduduk miskin atau sekitar 10,12 persen di Indonesia. Demikian disampaikan Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham dalam Dialog Nasional  Indonesia Maju di Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (31/3/2018). Idrus menjelaskan, angka kemiskinan di Indonesia sekarang turun 1,2 juta jiwa atau sekitar 0,5 persen. "Sekarang ini angka kemiskinan di Indonesia turun sebanyak 1,2 juta jiwa," kata Idrus. Idrus menyatakan pemerintah terus melakukan perluasan terhadap penerima keluarga manfaat program keluarga harapan (PKH). Perluasan program ini dinilai efektif dan mampu menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. "Pemerintah menargetkan angka kemiskinan di tahun 2019 nanti turun 9 persen," jelas dia. Oleh sebab itu, pihaknya menegaskan perlu ada pengetatan validasi terhadap keluarga penerima manfaat PKH agar tepat sasaran. Sehingga program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tersebut benar-benar tepat sasaran. Sementara itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati yang juga hadir dalam dialog nasional memaparkan, Kabupaten Sragen masuk dalam zona merah kemiskinan. Menurut dia angka kemiskinan di Sragen mencapai 13,8 persen. "PR (pekerja rumah) kita yang utama adalah bagaimana mengentaskan kemiskinan. Kita ingin nantinya bisa mengikuti target nasional bahwa angka kemiskinan turun menjadi 9 persen," ungkap dia. Dirinya mengaku dapat masukan dari Mensos tentang bagaimana mengentaskan kemiskinan di Sragen. Sebab, kata Yuni, angka kemiskinan di Sragen masih lebih tinggi dari Jawa Tengah yakni 11 persen dan nasional 10,12 persen. "Kita berusaha menurunkan itu (angka kemiskinan). Beberapa pengarahan sudah disampaikan Bapak Menteri sehingga menjadi target kita ke depan," paparnya. (sunber: ekonomi.kompas.com)

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menyebutkan Rencana Kerja Pemerintah untuk target persentase kemiskinan pada 2018 ini berada di kisaran 9,5 – 10 persen. Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebutkan saat ini adalah momentum baik untuk menurunkan angka kemiskinan Indonesia hingga mencapai single digit.

Angka kemiskinan Indonesia pada September 2017 lalu berada di level 10,12 persen dengan jumlah absolut sebesar 26,58 juta jiwa. Pada 2016, sebesar 10,70 persen atau sebesar 27,76 juta jiwa.

“Tingkat kemiskinan pada September 2017 mencapai titik terendah selama hampir dua dekade, yaitu menjadi sebesar 10,12 persen. Terjadi pengurangan sekitar 1,18 juta jiwa penduduk miskin, padahal sebelumnya rata-rata penurunan kemiskinan hanya kurang dari 500 ribu orang per tahun,” kata Bambang di kantor Kementerian PPN/Bappenas Jakarta pada Selasa (9/1/2018).

Ia menambahkan, faktor pendorong penurunan angka kemiskinan ini meliputi inflasi 2017 yang terjaga dan stabil dalam rentang target 4 kurang lebih 1 persen. Dalam kurun waktu Maret-September 2017, inflasi umum dapat dijaga pada tingkat 1,45 persen dan pemerintah berhasil menjaga stabilitas harga pada Hari Raya Lebaran, terutama komponen makanan.

Selain itu, meningkatnya upah riil buruh tani sebesar 1,05 persen dalam 6 bulan terakhir. Ia mengatakan, buruh tani adalah salah satu tenaga kerja yang tergolong miskin paling banyak. “Peningkatan upah riil buruh tani sangat membantu peningkatan kesejahteraan petani. Hal ini mendukung menurunnya kemiskinan di perdesaan,” ujar Bambang.

Faktor selanjutnya, adanya integrasi program-program penanggulangan kemiskinan. “Kalau kita bisa integrasikan program untuk penurunan tingkat kemiskinan, maka target penurunan kemiskinan dapat lebih cepat tercapai,” ungkapnya.

Ada pun integrasi program-program penanggulangan kemiskinan yang dimaksud meliputi. Pertama, perbaikan basis data untuk target dan penyaluran non tunai melalui satu kartu. Kedua, penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) yang terintegrasi dengan bantuan lain untuk mendorong akumulasi aset/tabungan dan kases layanan lainnya.

Ketiga, reformasi subsidi pangan dan energi tepat sasaran; dan keempat adalah optimalisasi penggunaan dana desa yang turut menurunkan kemiskinan di wilayah perdesaan.

“Mengurangi subsidi menjadi bentuk reformasi subdisi agar tepat sasaran. Subsidi dialihkan menjadi bantuan langsung, dalam bentuk bantuan sosial. Kalau kerja sama itu case by case kami terbuka juga. Tapi biasanya, perusahaan CSR ada target sendiri. Zakat juga. Yang bisa kami lakukan adalah koordinasi,” terangnya.

Dalam perbaikan penyaluran bantuan ini, pemerintah akan lebih berhati-hati, seperti untuk perluasan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). “BPNT ini ujung tombak karena KIS (Kartu Indonesia Sehat) dan KIP (Kartu Indonesia Pintar) relatif sudah tepat sasaran. Yang relatif kurang tepat sasaran adalah rastra (beras sejahtera). Jadi jurus untuk single digit adalah penguatan tepat sasaran dengan BPNT,” ujarnya. (sumber: tirto.id)

3.2            Tingkat Investasi Di Indonesia


Tahun 2018 diprediksi menjadi tahun dengan iklim investasi tepat di pasar modal. Hanya, ada beberapa faktor yang akan memengaruhi laju saham Indonesia.

Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi menjelaskan, tahun ini masih memberikan harapan positif bagi kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas pertumbuhan ekonomi global.

"Walaupun di 2018 ini, akan menjadi tahun politik. Banyak pihak yang memprediksi akan terjadi sedikit penurunan terhadap laju saham di Indonesia," ujar Gundy melalui keterangan resmi, Kamis, (22/2).

Menurut dia, kondisi pasar modal Indonesia sudah cukup kebal dengan pengaruh politik. Sebab, sudah teruji pada 2004, 2009, dan 2014.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat menambahkan, faktor yang berkontribusi dalam pergerakan bursa saham, khususnya di Indonesia, terbagi dalam faktor dan mikro. "Faktor makro tentunya meliputi bagaimana report negara kita, terutama terkait dengan stabilitas nilai rupiah, tingkat inflasi, pengelolaan fiskal, dan faktor fundamental perusahaan," kata dia.

Lebih lanjut, Samsul menjelaskan, pertumbuhan positif pasar Indonesia. Pada 2012 sampai 2017 tingkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sebesar 7,1 per tahun. Sejalan dengan pertumbuhan IHSG, aktivitas transaksi pada 2012 sampai 2017 pun tumbuh dari Rp 4 triliun ke Rp 7,5 triliun.

Sementara dari sektor eksternal, kata dia, Amerika Serikat masih menjadi kiblat pasar modal. Kekhawatiran terhadap presiden baru AS serta kebijakan pemerintah AS dalam hal menurunkan suku bunga dan menaikkan pajak yang awalnya menjadi pertimbangan bagi investor, ternyata tidak terbukti, malah cukup prudent dalam menjalankan pemerintah.

Ia memperkirakan, kebijakan AS untuk meningkatkan suku bunga dan menaikkan pajak akan menarik dana-dana global dan menjadi kalkulasi pra investor. "Mereka cenderung akan mengamankan investasi mereka di emerging markets dan akan sangat berhati-hati pada pada profit taking," kata Samsul.

Kemudian, pertumbuhan investor domestik dalam dua tahun terakhir mencapai 200 ribu, dari yang sebelumnya sebanyak 400 ribu investor, menjadi 600 ribu investor. "Daya serap pasar domestik kita cukup baik," kata Samsul.

Mungkin ini, kata dia, merupakan dampak dari kegiatan pengampunan pajak yang dibuat oleh pemerintah waktu itu, di mana dana-dana tax amnesty dimanfaatkan atau dimasukkan ke sektor pasar modal. Kondisi ini diharapkan mampu membuat pasar modal Indonesia lebih stabil terhadap perubahan-perubahan pasar dunia. (sumber: republika.co.id)




3.3            Faktor Penghambat Pertumbuhan Tingkat Investasi Indonesia


Bank Dunia melihat iklim investasi di Indonesia belum bisa tumbuh maksimal karena ada beberapa faktor penghambat. Salah satu penghambat tersebut adalah adanya aturan-aturan yang tidak menguntungkan bagi investor.

Setidaknya, saat ini terdapat 100 peraturan perundang-undangan di Indonesia terkait skema pendanaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha atau Public Privat Partnership (PPP) yang tidak konsisten. Kondisi tersebut selama ini menghambat masuknya investasi swasta dalam berbagai pembangunan proyek.

Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim mengungkapkan, ada beberapa penyebab pembiayaan sektor swasta di Indonesia masih terhambat. Salah satunya mengenai peraturan-peraturan yang tidak menguntungkan swasta guna menanamkan modal dalam pembangunan proyek infrastruktur di Tanah Air.

"Kami sudah mengidentifikasi 100 peraturan perundang-undangan yang mengatur PPP yang tidak konsisten satu sama lain, dan kurang menguntungkan swasta," kata Kim saat acara Indonesia Infrastructure Finance Forum di Fairmont Hotel, Jakarta, Selasa (25/7/2017).

Kim menjelaskan, peraturan tersebut seringkali lebih menguntungkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ketimbang swasta. BUMN lebih mudah mendapatkan proyek, dan sebagainya. "BUMN seyogyanya tidak diberikan hak pengelolaan proyek. Harus ada mekanisme kompetisi di sini untuk mendorong praktik terbaik di sektor infrastruktur," tegasnya.

Lebih jauh, tuturnya, pemerintah Indonesia harus segera memperbaiki regulasi, pengelolaan BUMN dengan merevisi insentif dan mempersiapkan perencanaan proyek secara matang supaya jelas bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

"Ini dilakukan untuk menarik lebih banyak swasta dalam pendanaan proyek infrastruktur. Karena Indonesia membutuhkan investasi US$ 500 miliar dalam 5 tahun ke depan guna mengurangi kesenjangan infrastruktur. Itu berarti, belanja infrastruktur naik dari 2 persen menjadi 4,7 persen dari PDB atau dua kali lipat di 2020," ujar Kim.

Akan tetapi, faktanya, Kim menambahkan, anggaran pemerintah sangat terbatas karena pengumpulan pajak yang belum maksimal serta defisit anggaran yang dibatasi tidak boleh lebih dari 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah Indonesia, sambungnya, hanya mampu memungut pajak kurang dari 50 persen dari potensi yang ada, karena rasio pajak terhadap PDB mengalami penurunan dari 11,4 persen menjadi 10,4 persen. "Bahkan pemungutan pajak di Indonesia lebih rendah dari Filipina yang 13,6 persen, sedangkan tantangannya sama dengan kita," jelas Kim.

Kim menegaskan, Bank Dunia mendukung pemerintah Indonesia melaksanakan reformasi perpajakan untuk bisa meningkatkan rasio pajak 1,1 persen terhadap PDB. "Seluruh dunia sedang melihat Indonesia karena tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ekonomi Indonesia sudah naik 10 kali lipat dibanding periode 1990-an sehingga memberikan daya tarik bagi dunia," ia menerangkan.

Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto menyatakan pengetahuan minim soal pasar modal menjadi penyebab kurang berkembangnya investasi jangka panjang seperti saham.

Abiprayadi mengatakan, hal tersebut terlihat dari jumlah investor di saham yang saat ini hanya sekitar 600 ribu. Padahal manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberikan kemudahan dalam investasi.

"Pemahaman investasi itu sendiri, misal BEI dulu 1 lot 500 lembar sekarang 100 mudah dan makin murah. Pertanyaannya saham apa, edukasi ini belum tersentuh," ujarnya.

Dia pun mengatakan, saham sendiri memiliki imbal hasil yang besar. Itu dibuktikan dari harga saham yang membengkak dari tahun ke tahun."Saya kasih contoh waktu PT Bank Mandiri Tbk go public sahamnya Rp 650. Sekarang Rp 12 ribu itu 20 kalilipat," ujar Abiprayadi.

Hal senada diungkapkan Direktur Utama PT Syailendra Capital Jos Parengkuan yang menyatakan jika pemahaman investasi merupakan kendala saat ini. Dia menuturkan, selama ini masyarakat Indonesia menjadikan perbankan sebagai panduan investasi masyarakat.

"Mereka lupa kalau uang bank 8 persen per tahun, suku bunga bank dekat inflasi.

Nyatanya, inflasi tersebut tidak jauh dari realitas sehari-hari. Ia menyebutkan, kenaikan harga cabai dan daging melebihi angka inflasi yang lebih dari 4 persen. "Berarti apa kalau naruh uang di bank, lama kelamaan daya beli kita mengecil itulah kenapa berpikir investasi," ujar dia. (Amd/Ahm)

3.4 Edukasi Tentang Pentingnya Investasi Di Indonesia


Investasi sangat penting dalam upaya pengatasan kemiskinan di Indonesia. Kesadaran berinvestasi perlu mulai ditumbuhkan oleh masyarakat Indonesia melihat potensi dan manfaat yang dapat didatangkan dari berinvestasi, diantaranya dalam mengatasi permasalahan kemiskinan di Indonesia. Beberapa upaya mulai dilakukan oleh pemerintah maupun beberapa kelompok tertentu dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berinvestasi. Salah satu usaha yang mulai dilakukan adalah sosialisasi akan pentingnnya investasi kepada para mahasiswa oleh PT MNC Asset Management memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai pasar modal, salah satunya terkait pentingnya berinvestasi sejak dini kepada mahasiswa Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

Kunjungan ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan oleh mahasiswa di Kantor MNC Asset Management. Chief Executive Officer (CEO) MNC Asset Management Frery Kojongian menyambut baik kedatangan mahasiswa yang menunjukkan besarnya minat keingintahuan generasi muda dalam mempelajari reksa dana. "Saya bangga ada mahasiswa Andalas jauhjauh datang berkunjung ke kantor, ini sangat luar biasa. Ini hal yang baik yang harus diapresiasi dan harus kita dukung dengan memberikan edukasi mengenai reksa dana, supaya jumlah investor muda bertambah banyak,” katanya di Jakarta kemarin.

Dirinya pun berharap, dengan kegiatan ini generasi milenial dapat terus berinvestasi reksa dana ataupun saham. Menurut dia, kegiatan serupa akan diagendakan secara berkala sebagai upaya memfasilitasi kebutuhan dari kaum akademisi mempelajari instrumen investasi reksa dana. Kegiatan seperti ini juga untuk merealisasikan imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam meningkatkan angka literasi keuangan di kalangan masyarakat. "Mudah-mudahan bermanfaat dan ilmu yang kami sharebisa diinfokan kembali kepada keluarga dan kerabat mereka di tempat tinggal masingmasing,” ujarnya. Frery menambahkan, kegiatan serupa akan diagendakan secara berkala sebagai upaya memfasilitasi kebutuhan dari kaum akademisi mempelajari instrumen investasi reksa dana.

“Kegiatan seperti ini juga untuk merealisasikan imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam meningkatkan angka literasi keuangan di kalangan masyarakat,” tuturnya. Sementara itu, di Bandung PT MNC Asset Management mengajak Asosiasi Bankir Bandung menjadikan investasi sebagai gaya hidup. Branch Manager MNC Asset Management Bandung Joelia Ratna Sari mengatakan, dengan mengaplikasikan perencanaan keuangan dan investasi melalui reksa dana, maka tak sulit bagi masyarakat untuk merealisasikan financial freedom dalam hidup. “Sebenarnya saya yakin sudah banyak yang mulai menyadari pentingnya berinvestasi, mengetahui tentang reksa dana, manfaat dan keuntungannya. Hanya saja, tidak semua memiliki semangat untuk mempraktikkannya,” katanya.

Lebih lanjut Joelia mengungkapkan, MNC Asset Management berbagi semangat investasi kepada peserta dari Asosiasi Bankir Bandung yang hadir. “Di sini kami menunjukkan kepada para peserta actionnya dalam berinvestasi di reksa dana,” ujarnya. (sumber: koran-sindo.com)




BAB IV PENUTUP


4.1 Kesimpulan


Berdasarkan penulisan makalah diatas, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.      Permasalahan kemiskinan di Indonesia masih menjadi salah satu permasalahan penting di Indonesia. Tingkat kemiskinan di Indonesia masih lebih tinggi dari beberapa negara tetangga seperti Malaysia, timor leste, singapura, dan Thailand.
2.      Meskipun mempunyai potensi yang sangat besar, tingkat investasi di Indonesia masih belum dapat dinilai cukup.
3.      Sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya investasi untuk mengatasi masalah kemiskinan dinilai sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya investasi.

4.2 Saran


Dari penulisan makalah ini, penulis memiliki beberapa saran diantaranya:
1.  Masyarakat perlu menyadari tentang betapa pentingnya investasi sejak dini, tidak hanya untuk diri sendiri akan tetapi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia secara aggregate.
2.  Pemerintah diharapkan untuk lebih sering mengadakan sosialisasi dan edukasi tentang investasi, terutama di daerah – daerah yang masih minim tingkat investasinya.



DAFTAR PUSTAKA






Tidak ada komentar:

Posting Komentar